PortalGaruda Publikasi Indonesia Index ini menyimpan dan menyediakan lebih dari 5.000 jurnal online yang dapat Anda akses secara gratis. Di situs ini Anda bisa mengindeks jurnal, abstrak, serta peningkatan standar publikasi jurnal ilmiah yang ada di Indonesia. 3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
10 London School of Public Relations (LSPR) LSPR dikenal sebagai salah satu sekolah Ilmu Komunikasi terbaik di Indonesia dan memiliki kurikulum internasional dan nasional. Berbeda dengan kampus lain, LSPR sudah mendapatkan izin menyelenggarakan kuliah E-Learning atau online 100%.
cash. - Pendidikan yang berkualitas menjadi salah satu bekal menuju masa depan lebih baik. Namun, belum semua anak-anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama mengenyam pendidikan layak sesuai dengan usianya. Mengerti bahwa setiap anak memiliki hak untuk belajar, Stefanus Christofer, William Suwandi dan Kevin Samuel Andwa berinisiatif mendirikan Yayasan Ruang Aksara Pengetahuan, yakni tempat belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, untuk bisa mendapatkan pendidikan secara 2020, Ruang Aksara Pengetahuan telah membangun dan memberikan fasilitas pendidikan di beberapa tempat, seperti di daerah Dusun Cigaru, Kabupaten Tangerang, Banten dan Manggarai. Baca juga Targetkan 17,9 Juta Siswa, Ini Cara Daftar KIP Sekolah SD-SMA 2021 "Kami memiliki keinginan untuk dapat membantu pendidikan di Indonesia. Banyak anak-anak yang putus sekolah dengan alasan biaya pendidikan yang mahal, apalagi di masa pandemik ini. Jadi, kita memutuskan untuk membuka Yayasan Ruang Aksara Pengetahuan," papar Kevin dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat 20/3/2021. Ruang Aksara Pengetahuan, lanjutnya, difungsikan sebagai tempat belajar bagi para masyarakat yang kurang mampu, untuk bisa mendapatkan pendidikan secara gratis dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan mulai dari alat tulis, buku, hingga masker untuk protokol kesehatan pada saat proses belajar."Kami memfasilitasi ruang belajar, tenaga pengajar, alat tulis, buku, dan lain-lain untuk mendukung anak-anak untuk bisa belajar," imbuh dia. Baca juga Pendataan KJP Plus SD-SMA Tahap 1 Tahun 2021 Dibuka, Ini Besaran Dana Dok. Yayasan Ruang Aksara Pengetahuan Yayasan Ruang Aksara Pengetahuan Hadirkan tenaga pengajar kompeten Tak hanya fasilitas fisik, Ruang Aksara Pengetahuan memberikan tenaga pengajar yang memang berkompeten di bidangnya. Adapun mata pelajaran yang diajarkan mulai dari matematika, bahasa inggris, hingga kesenian. Hingga saat ini Yayasan Ruang Aksara Pengetahuan di Dusun Cigaru telah memiliki anak didik sebanyak 10-25 orang murid di tingkat sekolah dasar. Sementara di Manggarai kurang lebih memiliki anak didik 15 orang. Stefanus berharap dengan adanya Yayasan Ruang Aksara Pengetahuan, para anak-anak yang kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan secara gratis. Sementara itu, William menambahkan, dengan mendapatkan pendidikan yang baik, masa depan anak-anak menjadi lebih baik. "Inilah yang kami harapkan, dan semoga ini bisa menginspirasi banyak orang," harap William. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
loading...Pendidikan gratis di sejumlah negara. Foto/Ist JAKARTA - Bagi sebagian orang, kuliah mungkin merupakan suatu impian yang tidak bisa tercapai. Hal ini berkaitan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti pendidikan di perguruan tinggi .Namun, ada beberapa negara yang memberikan kuliah gratis , tanpa beasiswa. Beberapa di antaranya juga memberikan perkuliahan gratis untuk mahasiswa asing. Baca Juga Berikut merupakan daftar negara yang mahasiswanya tidak perlu beasiswa, namun tetap dapat kuliah secara FinlandiaDilansir dari laman pendidikan memang sudah menjadi prioritas utama di negara pendidikan di sana memiliki prinsip untuk memberikan semua orang hak pendidikan yang sama dan berkualitas. Oleh karena itu, tanpa memandang asal etnis, usia, kekayaan, bahasa, serta asal seseorang, pemerintah Finlandia akan menjamin kesempatan yang sama dalam belajar. Baca Juga Tidak berhenti di situ saja, di dalam Undang-Undang mereka diatur juga mengenai pendidikan gratis dari jenjang pra-sekolah hingga perguruan heran apabila tingkat kesejahteraan masyarakat Finlandia tergolong tertinggi di mahasiswa asing, pemerintah negara ini juga sudah memikirkan kenyamanan belajar mahasiswa sana telah disediakan banyak program studi yang menggunakan bahasa Inggris dalam ini akan mempermudahkan mahasiswa asing dalam menempuh pendidikan di negara beberapa tahun belakangan ini dicanangkan reformasi pendidikan. Reformasi ini akan berkaitan untuk meningkatkan pendidikan dan mencapai tujuan tersebut melingkupi upaya untuk mengembangkan sekolah sebagai komunitas belajar, menekankan kegembiraan belajar dan suasana kolaboratif, serta mempromosikan otonomi siswa dalam belajar dan kehidupan kalian yang berminat melanjutkan jenjang perkuliahan ke negara ini terdapat nama-nama universitas berkualitas yang dapat antaranya adalah Universitas Helsinki, Universitas Aalto, Universitas Turku, Universitas Oulu, dan Universitas NorwegiaNegara selanjutnya adalah Norwegia. Sama dengan Finlandia, negara ini juga memegang prinsip bahwa setiap orang harus memiliki akses yang sama ke pendidikan berkualitas tanpa memandang latar Norwegia, universitas negeri sepenuhnya didanai dan mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya untuk berkuliah di biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa adalah biaya hidup pribadi. Mungkin akan ada pertanyaan mengenai dari mana pendanaan tenaga kerja dan biaya perawatan gedung tersebut sudah menjadi tanggungan dari dana banyak pilihan perguruan tinggi bagi mahasiswa yang ingin kuliah gratis di antaranya adalah Nord University, Oslo Metropolitan University, University of Bergen, Western Norway University of Applied Sciences, UiT The Arctic University of Norway, University of Stavanger, dan University of SloveniaSlovenia merupakan negara yang ideal untuk dijadikan pilihan meneruskan studi. Di sana terdapat kebijakan mengenai perkuliahan yang hanya perlu membayar biaya pendaftaran tahunan sebesar 30 Euro dan juga biaya hidup pribadi hidup di Slovenia, total biaya hidup yang dikeluarkan sebesar 250-500 Euro per bulannya atau setara dengan RP3,7 - 7,5 ini tentunya dapat disesuaikan juga dengan gaya hidup dan pilihan transportasi yang digunakan pilihan universitas dengan biaya kuliah gratis di Slovenia adalah University of Maribor, University of Ljubljana, dan University of Nova JermanMereka yang berasal dari Jerman, Eropa, atau bahkan merupakan orang non-Eropa, semuanya dapat belajar di Jerman secara perlu pendalaman lagi mengenai makna kata “gratis.” Gratis di sini memiliki artian tidak dikenai biaya kelas sehingga wajib bagi mahasiswa tetap membayar biaya ini hampir berlaku untuk semua program studi di perguruan tinggi negeri. Biaya tersebut umumnya dikenal sebagai kontribusi semester yang dibayarkan di awal tergantung dari masing-masing universitas, namun biasanya ada pada kisaran antara 150-250 Euro/ banyak perguruan tinggi yang menawarkan pendidikan gratis untuk mahasiswa internasional. Di antaranya adalah Technical University of Munich, Ludwig Maximilian University of Munich, Humboldt University of Berlin, University of Hamburg, Free University of Berlin, RWTH Aachen University, University of Mannheim, dan University of SwediaSebagian besar universitas di Swedia memberikan pendidikan secara gratis untuk warga negara EU/EEA Uni Eropa/Area Ekonomi Eropa dan bagi mahasiswa non EU/EEA ada kewajiban untuk membayar biaya kuliah tergantung dengan universitas dan disiplin ilmu yang kisaran biaya yang biasanya ditanggungkan adalah sebesar 7500-25500 Euro per merupakan kisaran biaya kuliah untuk disiplin ilmu populer di universitas negara Ilmu Sosial dan Humaniora - Euro/tahun- Teknik, IT, dan Ilmu Pengetahuan Alam - Euro/tahun- Arsitektur dan Desain - Euro/tahunSedangkan untuk pilihan universitas yang gratis dimasuki oleh mahasiswa asal EU/EAA adalah University of Gothenburg, Jonkoping University, Dalarna University, Lulea University of Technology. mpw
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional Hardiknas. Hardiknas ditetapkan pemerintah untuk memperingati kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara yang lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Pada 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priayi maupun orang-orang Belanda. Ki Hadjar memiliki cita-cita mulia yakni pendidikan yang bisa dinikmati oleh semua rakyat. Kini setelah kemerdekaan diraih, apakah cita-cita Ki Hadjar Dewantara sudah terwujud? Mari kita lihat, salah satu program pemerintah, yakni program sekolah gratis atau sekolah tanpa pungutan yang bertujuan agar pendidikan bisa dinikmati semua lapisan masyarakat. Program pendidikan sekolah tanpa pungutan telah memasuki tahun ke-13, dan sampai saat ini belum pernah dievaluasi. Sebenarnya program tersebut mempunyai tujuan yang sangat baik untuk membuka akses kepada seluruh anak Indonesia mendapatkan pendidikan bermutu. Namun, apa capaian yang didapat selama program ini berjalan bertahun-tahun? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik BPS tahun 2017, secara keseluruhan angka partisipasi murni APM sekolah dasar SD sebesar 97,14 persen, sekolah menengah pertama SMP 78,30 persen, serta sekolah menengah atas SMA dan sekolah menengah kejuruan SMK 60,19 persen. Definisi APM adalah proporsi penduduk pada kelompok umur jenjang pendidikan tertentu yang masih bersekolah terhadap penduduk pada kelompok tersebut. Jika dilihat secara kasat mata, persentase tersebut, bahkan APM untuk SD, mendekati 100 persen. Akan tetapi jika ditarik mundur dan dibandingkan data 2014, ternyata perubahan tersebut tidak signifikan. Data BPS 2014, APM SD sebesar 96,37 persen. Dengan demikian, berarti selama tiga tahun, kenaikan APM hanya 0,77 persen. Pun begitu untuk APM SMP, yang menurut data BPS pada 2014, sebesar 77,43 persen. Dengan demikian, berarti kenaikannya hanya di angka 0,87 persen selama tiga tahun terakhir. Sedangkan, APM SMA dan SMK hanya naik 0,95 persen selama rentang 2014 hingga 2017, dari sebelumnya 59,24 persen menjadi 60,19 persen. Dengan demikian, persentase kenaikannya di bawah 1 persen pada semua jenjang pendidikan. Fakta-fakta tersebut tentunya sangat memprihatinkan. Padahal sekolah gratis tersebut dianggarkan pada APBN dengan nilai Rp 45 triliun setiap tahun melalui program Bantuan Operasional Sekolah BOS. Jumlah itu belum ditambah program-program unggulan pemerintah seperti Program Indonesia Pintar PIP yang dimulai tahun 2015. Program unggulan dengan Kartu Indonesia Pintar KIP yang menelan anggaran hingga Rp 9 triliun, ternyata tidak mampu meningkatkan APM secara signifikan. Mungkin saja kita bisa beralasan ketidaksignifikanan tersebut terjadi di daerah yang termasuk terdepan, terpencil, dan tertinggal 3T. Namun, jika kita bandingkan dengan DKI Jakarta yang kaya dan memiliki anggaran pendidikan Rp 20 triliun setiap tahun, hal itu benar-benar terjadi. Berdasarkan data BPS 2017, APM SD di Jakarta sebesar 97,64 persen, untuk SMP 80,72 persen, dan APM SMA/SMK 59,54 persen. Persentasenya tidak jauh dibandingkan dengan persentase nasional, bahkan untuk SMA/SMK justru di bawah APM nasional. Jika kita kembali menarik mundur ke belakang, tepatnya pada 2014, APM untuk jenjang SD di DKI sebesar 96,84 persen, atau naik 0,8 persen saja. Untuk jenjang SMP hanya 79,61 persen atau naik 1,11 persen. Sedangkan, untuk usia SMA/SMK, APM pada 2014 sebesar 58,79 persen persen, naik 0,75 persen dalam rentang waktu tiga Pemprov DKI Jakarta memiliki program seperti PIP, yakni Kartu Jakarta Pintar yang menelan dana Rp 3 triliun setiap tahun. Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga menganggarkan dana Rp 1,5 triliun setiap tahun untuk dana bantuan operasional pendidikan BOP yang hanya diberikan untuk sekolah negeri di luar dana BOS. Jadi bisa dilihat, meskipun Pemprov DKI Jakarta menggelontorkan dana puluhan triliun setiap tahun untuk pendidikan, tetapi tak berdampak signifikan pada jumlah masyarakat yang bisa mengakses pendidikan. Berbasis UNApa yang menyebabkan dampak sekolah gratis belum signifikan? Dari beberapa hasil diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion yang membahas program atau sistem pendidikan di Indonesia yang melibatkan kementerian dan semua pemangku kepentingan bidang pendidikan, dapat disimpulkan bahwa program sekolah gratis ini belum tepat sasaran. Sebab, ternyata mereka yang bersekolah di sekolah gratis ini lebih banyak didominasi oleh masyarakat golongan menengah ke atas. Penyebabnya, antara lain karena proses penerimaan peserta didik baru menggunakan nilai atau hasil ujian nasional UN. Mereka yang berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke atas rata-rata memiliki nilai lebih, sehingga bisa mengakses layanan pendidikan dibandingkan anak dari keluarga kurang mampu. Tentu saja, anak-anak dari golongan masyarakat ekonomi menengah ke atas pula yang mampu untuk mengakses pelajaran tambahan, maupun bimbingan belajar atau bimbingan tes yang bisa memberikan fasilitas yang lebih dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dengan demikian peserta didik dari keluarga tidak mampu harus bersekolah di sekolah berbayar swasta yang dengan keterbatasan sumber daya dan fasilitas, akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan yang diberikan. Di sisi lain, aturan pemerintah mengenai penerimaan peserta didik baru juga belum berpihak ke masyarakat kurang mampu. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru PPDB Pasal 16 ayat 1 menyebutkan bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu, yang berdomisili dalam satu wilayah paling sedikit 20 persen dari jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima. Ini menjadi tanda tanya besar, mengapa peserta didik dari keluarga kurang mampu harus dibatasi untuk mendapatkan sekolah gratis? Seharusnya yang dibatasi justru mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas dan bukan yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Seharusnya tidak ada alasan anak dari keluarga tidak mampu untuk ditolak di sekolah negeri, karena sekolah tanpa pungutan akan jauh bermanfaat bagi anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Pada Permendikbud 17/2017 Pasal 16 ayat 2 diatur keluarga peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu atau bukti lainnya yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. Adanya PIP maupun KJP seharusnya menjadi dasar bahwa anak tersebut berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga tak perlu lagi bukti lain yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. Mereka seharusnya tidak boleh ditolak dengan alasan apa pun, sehingga tujuan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat seperti yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara dapat terwujud. Saksikan live streaming program-program BTV di sini
pendidikan gratis di indonesia